tafsir surat alkautsar (tafsir jalalain)

 

سورة الكوثر
[ مكية أو مدنية وآياتها ثلاث ]
بسم الله الرحمن الرحيم
1 – { إنا أعطيناك } يا محمد { الكوثر } هو نهر في الجنة هو حوضه ترد عليه أمته والكوثر : الخير الكثير من النبوة والقرآن والشفاعة ونحوها

 

2 – { فصل لربك } صلاة عيد النحر { وانحر } نسكك


3 – { إن شانئك } أي مبغضك { هو الأبتر } المنقطع عن كل خير أو المنقطع العقب نزلت في العاصي بن وائل سمى النبي صلى الله عليه و سلم أبتر عند موت ابنه القاسم

 

001. (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu) hai Muhammad (Al-Kautsar) merupakan sebuah sungai di surga dan

telaga milik Nabi saw. kelak akan menjadi tempat minum bagi umatnya. Al-Kautsar juga berarti kebaikan yang banyak, yaitu

berupa kenabian, Alquran, syafaat dan lain sebagainya.

002. (Maka dirikanlah salat karena Rabbmu) yaitu salat Hari Raya Kurban (dan berkurbanlah) untuk manasik hajimu.

003. (Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu) yakni orang-orang yang tidak menyukai kamu (dialah yang terputus)

terputus dari semua kebaikan; atau putus keturunannya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang yang bersikap demikian,

dia adalah ‘Ash bin Wail, sewaktu Nabi saw. ditinggal wafat putranya yang bernama Qasim, lalu ‘Ash menjuluki Nabi sebagai

Abtar yakni orang yang terputus keturunannya.

Pendidikan di Indonesia Bermasalah

Gambar

 

Usia negeri indonesia yang 67 tahun merupakan usia yang sudah tua tapi, dengan usia tersebut bukan menjadi negara yang dewasa dan maju akan tetapi indonesia tambah usianya tambah pula kesengsaraan yang diderita oleh rakyat dan gagal total dalam segala bidang baik sosial, ekonomi, politik, hukum, dan pendidikan. Berbicara Mengenai masalah pedidikan, ditahun 2012  sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Hal ini dapat kita lihat fakta pendidikan di indonesia baik itu Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, fasilitas pendidikan, bahkan aturan terkait kurikulum UU Pendidikan yang kacau.

Hal tersebut dapat kita buktikan faktanya satu –persatu : yang pertamakualitas pengajar yang kurang profesional”, hal ini dapat dilihat faktanya masih banyak guru yang tidak layak, tidak disiplin, dan jarang mengajar. Faktanya  didaerah Sultra para wali murid merasa kesal melihat kepala sekolah dan guru yang jarang mengajar, dari sisi materi yang diberikan guru oleh siswanya hanya sekedar teory belaka, materi yang diberikan juga jauh dari nilai-nilai agama. Yang kedua, “fasilitas pendidikan yang tidak memadai” Masih banyak gedung sekolah yang tidak layak digunakan untuk belajar. Data yang diterima Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, selama tahun 2011 terdapat sekitar 21 ribu sekolah rusak berat. Bahkan seperti yang dilaporkan Republika, gedung sekolah yang rusak berat itu ada yang sampai merengut nyawa siswa. fakta lain, didaerah terpencil ada bentuk gedung sekolah yang seperti kandang sapi, ruang kelas yang kelihatan tidak nyaman, rak buku yang reot dan hampir rubuh, meja guru yang tidak layak, kamar kecil yang jauh dari sekolah, tempat parkir yang tidak layak juga, ini semua merupakan keprihatinan dunia pendidikan Indonesia.

Yang ketiga, “kualitas siswa/mahasiswa masih rendah” hal ini bisa dilihat dari siswa/mahasiswa yang dihasilkan tidak berkepribadian Islam. Bahkan sebaliknya pendidikan sekuler  hanya menghasilkan individu-individu yang materialistik, berjiwa pragmatis, dan berakhlaq buruk. Karena pada dasarnya,Generasi berkualitas yang ideal adalah generasi yang melahirkan barisan pemimpin umat yang tidak hanya memiliki keahlian, melainkan juga memiliki kepribadian islam. Jika kita menilik kondisi generasi yang ada di Indonesia, maka nampaknya masih jauh dari gambaran generasi berkualitas. Pada level akar rumput kita dapati banyak terjadi konflik horisontal baik yang dilakukan pelajar bahkan mahasiswa, serta pudarnya pergerakan mahasiswa yang kritis, cerdas, dan pro rakyat. Sementara di tingkat elit, fenomena munculnya pemimpin-pemimpin muda tanpa integritas pada pentas politik adalah problem serius. Walhasil, di negeri ini sangat langka mendapati sosok pemimpin berintegritas yang bisa melindungi rakyat. Dan yang keempat,”Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Di perguruan tinggi, biaya kuliah juga semakin mahal. baik di perguruan tinggi swasta, maupun di perguruan tinggi negeri. Uang pangkal perguruan tinggi swasta dari 7 jutaan, hingga puluhan juta. Di perguruan tinggi negeri uang pangkal mulai puluhan juta, hingga ratusan juta.

 

Makin mahalnya biaya pendidikan itu akibat terjadinya kapitalisasi pendidikan melalui penerapan kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Dan Mahalnya biaya kuliah itu diantaranya akibat disahkannya PP no 66 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran Pendidikan, yang isinya ternyata tidak jauh berbeda dengan UU BHP dan seakan hanya berganti nama. “PP tersebut membuat lembaga pendidikan seperti lembaga bisnis atau pendidikan hanya dijadikan sebagai komoditas semata”. Dan RUU PT ditahun 2011 juga tidak jauh beda yang intinya mengindikasikan lemahnya perhatian pemerintah yang dengan mudahnya membuka pintu lebar-lebar kepada  pihak asing untuk mencengkram pendidikan di Indonesia. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin.Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga pendidikan berkualitas dan mahal hanya untuk orang-orang kaya saja. Hal ini membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah, “ Orang miskin tidak boleh sekolah”.

 

Antara Pendidikan dan Pemerintah

Indonesia adalah Negara yang kaya akan SDA. Hal itu tidak hanya diakui oleh segelintir orang, tetapi seluruh dunia pun mengakuinnya. Meskipun demikian, keberadaan SDA tersebut haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan bukan dengan mengeruk sampai habis. Dan yang diharapkan tentu saja SDM negeri ini. Untuk memperoleh SDM berkualitas untuk mengelola asset Negara yang tidak lain adalah milik umat ini maka satu-satunya jalan adalah dengan pendidikan.

Bagi masyarakat, adalah sulit untuk menghubungkan antara pendidikan dan pemerintah. Masyarakat umumnya menilai bahwa pendidikan hanya berkaitan erat dengan guru serta elemen persekolahan. Jika dirunut lebih cermat, segala peraturan pendidikan yang ada bersumber dari kebijakan pemerintah. Keputusan mengenai standar kelulusan tahun ini yang begitu menakutkan bagi siswa adalah contoh betapa pemerintah memegang tampuk utama setiap permasalahan kebijakan yang ada dalam proses pendidikan sekaligus contoh nyata tidak dianggapnya atau tidak diperhatikannya pendapat guru sebagai pendidik.

Terlepas dari kedudukan guru yang hanya dijadikan sebagai pelaksana pendidikan, terkadang masih banyak guru yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak boleh dikaitkan dengan pemerintah. Hal itu sungguh salah besar. Secara harfiah, pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk menjaga dan melestarikan pengetahuan yang dimiliki agar tetap membekas dihati anak-anak bangsa, dimana anak tersebut tidak lain yang akan mewarisi dan meneruskan roda perjuangan bangsa. Dari pengertian itu saja, dapat disimpulkan bahwa pemerintah tidak boleh lepas tangan dalam melakukan pantauan di bidang pendidikan.

Beberapa dekade telah berlalu. Pendidikan di Indonesia yang sekarang ini lebih identik sebagai ajang bisnis. Ibarat pasar, begitu ramai barang dijajakan tetapi sangat menyedihkan melihat kondisi rakyat yang tak mampu membeli kebutuhan tersebut. Orang miskin dilarang sekolah. Begitulah gambaran masyarakat yang umum yang bertebaran setiap elemen. Dan kebobrokan pendidikan telah memberikan dampak yang langsung. Yaitu semakin bertambah beban orang tua dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Bagi orang tua yang tidak mau menyerah pada keadaan, segala usaha akan dilakukan  untuk mencukupi biaya yang harus dibayar untuk memenuhi keberlangsungan  pendidikan yang dienyam anaknya. Berlainan dengan orang tua yang merasa tak mampu untuk membiayai sekolah anaknya. Dengan beban yang sangat, para orang tua tersebut memaksa anaknya untuk mengubur dalam-dalam impiannya. Sungguh tragis karena hal itu masih berlangsung hingga sekarang.

Sudah banyak solusi yang ditawarkan pemerintah. Namun, solusi tersebut lebih bersifat menutupi masalah untuk sementara waktu, bukan menyelesaikan masalah. Contoh, kebijakan pemerintah dalam menaikkan standar kelulusan dalam UN. Diakui atau tidak, bukannya peningkatan kualitas SDM yang didapat, justru moral siswa semakin hancur. Para siswa yang terlalu takut mengahadapi UN, rela melakukan segala cara agar dirinya lolos dari UN. Mulai dari membuat contekan, bekerja sama saat ujian hingga membeli kunci jawaban UN. Tidak hanya siswa, guru pun memiliki ketakutan sendiri terhadap kondisi masa depan anak didiknya. Disamping itu, para guru cemas akan status kepegawaian yang dimiliki selalu terancam ketika menjelang UN. Sehingga tak heran jika ada guru yang ikut membuat dan menyebarkan jawaban ujian tersebut. Jikalau demikian, manakah tujuan pendidikan yang menuju ke arah peningkatan moral bangsa.

Akhir-akhir ini, sebagian masyarakat begitu disibukkan terhadap suatu aktifitas yang di dalamnya diharapkan akan terealisasinya suatu harapan. Masyarakat yang sudah mengetahui secara pasti kebobrokan pejabatnya, masih saja menaruh harapan akan adanya perubahan yang lebih baik. Terutama pendidikan. Menjelang Pilkada Lampung, timbul segala macam peristiwa kontroversial. Pemerintah yang dulu tak peduli mengenai perkembangan pendidikan di provinsinya semakin menjadi tak peduli. Pemerintah hanya sibuk mengurusi urusan golongannya saja. Tanpa menyadari bahwa ia telah melalaikan rakyat yang bertumpu padanya. Sekalipun ada yang memperhatikan, itu pun tak lepas dari faktor n yang muncul. Apalagi kalau bukan faktor KKN ataupun riya’.

Sebagai tempat rakyat berkeluh kesah, seharusnya  pemerintah jeli memikirkan masalah pendidikan yang ada di Lampung ini. Menjelang Pilkada ini pun, seharusnya pemerintah semakin menyadari bahwa pendidikan di negeri ini berada dalam kondisi yang membahayakan. Pendidikan yang ada tak lebih dari berbasi uang dan bisnis saja. Dengan kondisi negeri yang miskin SDM ini sudah selayaknya pemerintah concern terhadap peningkatan mutu SDM bangsa. Hal itu dilakukan tidak lain agar bangsa ini siap mengelola SDA yang berlimpah ruah di negeri ini dengan mandiri.

Pemerintah harus segera mencabut akar permasalahan yang ada dalam pendidikan negeri ini, yaitu dengan mengganti secara mutlak sistem pendidikan itu sendiri. Adapun sistem yang dimaksud adalah sistem pendidikan berbasis Islam. Dinamakan demikian karena sistem pendidikan tersebut memiliki acuan dasar yaitu agama Islam yang berupa al-Qur’an dan al-Hadists. Sistem pendidikan ini pernah diterapkan secara utuh pada masa Kekhilafahan, maka dari itu sistem pendidikan ini pun dikenal dengan Sistem Pendidikan Negara Khilafah. Sistem pendidikan ini tidak hanya ditujukan untuk umat Islam saja, tetapi sistem pendidikan ini juga diberikan kepada kaum non-muslim. Bedanya, tidak ada paksaan bagi kaum non-muslim untuk mengikuti aqidah Islam dan melepaskan aqidah mereka.

Sistem pendidikan ini memiliki tujuan yang luhur, yaitu membangun kepribadian Islami (bukan hanya akhlak tetapi juga memiliki pola pikir berdasarkan ideologi Islam) dan mempersiapkan anak bangsa menjadi ahli-ahli  ilmu tertentu yang dapat memajukan bangsa. Dengan begitu, tidaklah perlu untuk mengimpor SDM dari luar negeri. Jika pemerintah benar –benar berkomitmen seperti itu, rasanya tidak sulit untuk melahirkan banyak B.J. Habibie muda di negeri ini. Terlebih lagi jika pemerintah yang dibentuk menetapkan aqidah sebagai point of life,  hal itu menjadi sangat mungkin terealisasikan. Bukankah itu hal yang diinginkan setiap bangsa.

Sebagai mahasiswa yang tidak lain juga menjadi objek pendidikan, adalah keharusan bagi kita untuk ikut mengkritisi stabilitas pendidikan yang sedang berlangsung di daerah Lampung ini. Dan sebagai agent of change kita dituntut mampu menyuarakan kebobrokan pendidikan di negeri ini. Selain itu, mahasiswa pun seharusnya mampu memberikan gambaran yang luas mengenai solusi terhadap kebobrokan sistem pendidikan yang sedang dijalankan ini, karena mahasiswa juga merupakan conceptor bangsa. Karena itu, marilah kita dukung perubahan pendidikan di negeri ini menuju arah yang lebih baik.[]

 dakwahkampus.com

Shodaqoh

Ummul Mukminin, Aisyah ra., suatu saat pernah mendapatkan hadiah berupa dua kantong harta berisi masing-masing 100 ribu dirham (total berarti 200 ribu dirham). Sebagaimana diketahui, satu dirham syar’i hari ini setara kira-kira Rp 70 ribu rupiah. Artinya, Aisyah ra. saat itu mendapatkan uang kira-kira Rp 14 miliar (200 ribu x Rp 70 ribu). Mendapatkan uang sebanyak itu, Aisyah ra. tidak lantas bergembira dan bersukacita, lalu menyimpannya atau menghabiskannya untuk kepentingan dan kesenangan dirinya. Sesaat setelah menerima hadiah uang itu, ia malah segera membagi-bagikan uang sebanyak itu kepada fakir miskin. Hanya dalam tempo beberapa jam saja, sejak pagi hingga sore, uang sebanyak Rp 14 miliar rupiah itu ludes disedekahkan semuanya. Tak ada satu dirham pun tersisa bagi dirinya. Padahal hari itu Aisyah ra. sedang berpuasa dan ia tidak tahu kalau hari itu ia tidak memiliki makanan untuk berbuka kecuali amat sedikit. Saat uang itu habis dibagikan menjelang magrib, Aisyah ra. berkata kepada pembantunya, “Coba engkau bawakan makanan untuk saya berbuka.”

Tak lama, pembantunya segera membawakan sepotong roti kering dan sedikit minyak zaitun.

“Adakah makanan yang lebih baik daripada ini?” tanya Aisyah ra.

“Andai tadi engkau menyisakan satu dirham saja, tentu kita dapat membeli sekerat daging,” jawab pembantunya.

“Mengapa engkau baru mengatakan itu sekarang? Andai saja tadi engkau meminta, tentu saya akan memberi kamu satu dirham,” kata Aisyah ra. (Al-Kandahlawi, Fadha-il A’mal, hlm. 679).

Demikianlah. Sepeninggal Baginda Rasulullah saw., dalam posisinya sebagai Ummul Mukminin, Aisyah ra. sering mendapatkan hadiah seperti ini, di antaranya dari Muawiyyah ra., Abdullah bin Umar ra., Zubair ra. dan para Sahabat lainnya. Apalagi saat itu kaum Muslim sering mendapatkan harta yang banyak (ghanimah) karena seringnya mereka meraih kemenangan dalam sejumlah peperangan. Walaupun banyak kaum Muslim saat itu yang memiliki banyak harta, dan sebagiannya banyak dihadiahkan kepada Ummul Mukminin Aisyah ra., Aisyah ra. tetap hidup sederhana.

Dalam kisah lain, sebagaimana dituturkan oleh Urwah ra., Aisyah ra. pernah menyedekahkan harta sebanyak 70 ribu dirham (kira-kira setara Rp 4,9 miliar), sementara saat itu beliau mengenakan pakaian yang amat sederhana bahkan bertambal.

Pada saat lain, Aisyah ra. sedang berpuasa. Selain sepotong roti, pada hari itu tak ada makanan di rumahnya untuk berbuka. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki miskin. Ia lalu meminta sedikit makanan kepada Aisyah ra. Aisyah ra. segera memerintahkan pembantunya untuk memberikan sepotong roti itu kepada lelaki miskin tersebut. Pembantunya berkata, “Jika kita memberikan roti ini kepada orang itu, berarti kita tidak memiliki makanan untuk berbuka.”

“Biar saja,” jawab Aisyah ra. “Berikan saja roti itu kepada dia,” tegasnya lagi (Al-Kandahlawi, Fadha-il A’mal, hlm. 679).

*****

Pembaca yang budiman, apa yang terlintas di benak kita saat kita membaca kisah nyata di atas? Perasaan apa yang ada dalam dada kita saat membaca kisah Aisyah ra.—juga kisah-kisah keteladanan para Sahabat ataupun Shahabiyah yang serupa, yang sesungguhnya bertaburan dalam catatan sirah dan sejarah mereka? Saya akan mencoba menduga-duganya.

Pertama: Yang ada pasti sikap takjub. Namun, sebatas itu. Setelah itu, kisah semacam ini akan berlalu begitu saja dari benak dan hati kita tanpa ada pengaruh sedikit pun ke dalam sikap dan tindakan kita. Infak kita tetap biasa saja. Sedekah kita tetap seperti semula; hanya sisa-sisa dari pengeluaran untuk memenuhi keperluan kita sehari-hari.

Kedua: Takjub, tetapi kemudian juga segera berapologi dan membela diri. “Ya, memang keimanan kita jauh sekali dengan para Sahabat Nabi saw. Rasa-rasanya susah kita bisa mencontoh keteladanan mereka.” Barangkali begitu komentar kita. Setelah itu, infak dan sedekah kita pun tak pernah meningkat; biasa-bisa saja seperti semula meski mungkin penghasilan kita terus bertambah. Sebabnya, kita sendiri sudah menegaskan: sulit mencontoh para Sahabat Nabi saw.

Ketiga: Kita takjub, lalu merenung. Namun, kita pun kemudian menimbang-nimbang saat berinfak. Pada akhirnya, mungkin infak dan sedekah kita meningkat sedikit dari sebelumnya karena kita masih bisa beralasan, “Ya, kalau disedekahkah semuanya, gimana untuk memenuhi keperluan kita dan keluarga kita?” Barangkali demikian komentar kita. Kebanyakan kita masih belum yakin dengan rezeki sebagai ketetapan dari Allah SWT. Kebanyakan kita pun masih belum yakin dengan balasan yang berlipat ganda—di dunia dan akhirat—dari amalan sedekah dan infak di jalan Allah SWT. Pada akhirnya, kisah-kisah tentang dahsyatnya infak dan sedekah para Sahabat Nabi saw. tetap sesuatu yang kecil pengaruhnya untuk menguatkan keyakinan sekaligus meledakkan semangat kita untuk melakukan hal yang sama.

Keempat: Takjub dan terharu sekaligus. Akal dan kesadaran kita segera tergugah. Perasaan kita segera bangkit untuk juga melakukan apa yang telah banyak dilakukan dan dicontohkan oleh para Sahabat Nabi saw. dalam hal infak dan sedekah mereka. Tak berlama-lama, kita akan segera mengeluarkan sebagian besar—bukan sebagian kecil—harta dan penghasilan kita untuk infak di jalan Allah SWT dan sedekah bagi fakir miskin. Tak ada lagi waktu untuk menimbang-nimbang. Tak ada masanya lagi untuk berpikir ulang. Dasarnya hanyalah satu keyakinan: Rezeki tak akan berkurang karena sedekah. Sebaliknya, sedekah pasti membawa berkah, selain akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT. Pada akhirnya, kita tak ragu lagi untuk menolong agama Allah SWT ini, juga untuk berbagi dengan kaum dhuafa; tentu tanpa rasa takut jatuh miskin. Bahkan hidup sederhana kini menjadi obsesi kita, sebagaimana yang  telah secara gamblang dicontohkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra. di atas, juga para Sahabat Nabi saw. yang lain, termasuk tentu saja sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. Menjadi kaya tak lagi menjadi orientasi utama. Menumpuk-numpuk harta tak lagi menjadi obsesi  di dalam dada.

Dari keempat tipikal di atas, kita termasuk yang mana?

Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib.

[dikutip dari Arief B. Iskandar]

 

Tafsir jalalain (tafsir alquran)

سورة الإخلاص
[ مكية أو مدنية وآياتها أربع ]
بسم الله الرحمن الرحيم
1 – سئل النبي صلى الله عليه و سلم عن ربه فنزل : { قل هو الله أحد } فالله خبر هو وأحد بدل منه أو خبر ثان


2 – { الله الصمد } مبتدأ وخبر أي المقصود في الحوائج على الدوام


3 – { لم يلد } لانتفاء مجانسته { ولم يولد } لانتفاء الحدوث عنه


4 – { ولم يكن له كفوا أحد } أي مكافئا ومماثلا وله متعلق بكفوا وقدم عليه لأنه محط القصد بالنفي وأخر أحد وهو اسم يكن عن خبرها رعاية للفاصلة

 

001. Nabi SAW ditanya tentang  tuhannya (Allah), maka turunlah ayat: (Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa”) lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah

Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.

002. (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) lafal ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya

Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.

003. (Dia tiada beranak) karena tiada yang menyamai-Nya (dan tiada pula diperanakkan) karena mustahil hal ini terjadi bagi-

Nya.

004. (Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia) atau yang sebanding dengan-Nya, lafal Lahu berta’alluq kepada lafal

Kufuwan. Lafal Lahu ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal Ahadun diakhirkan letaknya

padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan Khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya; demikian itu

karena demi menjaga Fashilah atau kesamaan bunyi pada akhir ayat.

 

Etika dalam Berdoa

Gambar

Agar doa kita diperkenankan Allah SWT, ada beberapa etika berdoa yang berlandaskan Alqu’ran dan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya:

1. Berhati-hati dalam mencari sumber rezeki, yang dipergunakan untuk makan, minum dan berpakaian.

2. Mencermati waktu-waktu yang utama, seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, sepertiga terakhir malam, waktu sahur, ketika sujud, turunnya hujan, antara adzan dan iqamah,serta waktu-waktu ijabah lainnya.

3. Mengangkat dua tangan sampai pundak.

4. Memulainya dengan memuji dan mengagungkan Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad, sebelum berdoa.

5. Menghadirkanhati dan menampakkan kerendahan diri.

6. Berdoa bukan untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturrahmi.

7. Tidak tergesa-gesa menginginkan hasil atau terkabulnya doa.

8. Mantap dan yakin atas dikabulkannya doa.

9. Memilih jawami’ alkalim (ungkapan yang singkat dan padat).

10.Memohon kepada Allah dengan asmaul husna.

11.Mengakui kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan.

12.Tidak memaksakan satu bentuk doa saja, hendaknya doanya beragam.

13.Optimis (raja’) atas rahmat Allah dan takut (khauf) akan siksa Allah SWT.

14.Bertobat dan mengembalikan hak-hak orang yang pernah didzalimi.

15.Berdoa dengan pengulangan tiga kali atau lebih.

 

Doa Menuntut Ilmu

Gambar

–          Doa Penerang Hati

 

اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ ﭐلأَرْضِ بِنُوْرِ شَمْسِكَ أَبَدًا بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Terjemahan: “ Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya petunjuk-Mu sebagaimana Engkau bumi dengan matahari-Mu selama-lamanya, Ya Allah Yang Maha Mengasihani. ”

 

–          Doa Pembuka Hati

 

اَللَّهُمَّ اَلْهِمْنِيْ رَشْدِيْ وَقِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ

Terjemahan: “ Ya Allah, berikan aku petunjuk dan peliharalah aku dari kejahatan sendiri. ”

 

–          Doa Mengulangkaji Pelajaran

 

اَللَّهُمَّ أَخْرِجْنِيْ مِنْ ظُلُمَاتِ ﭐلوَهْمِ وَأَكْرِمْنِيْ بِنُوْرِ ﭐلفَهْمِ وَﭐفْتَحْ عَلَيَّ بِمَعْرِفَتِكَ  وَسَهَّلْ لِيْ أَبْوَابَ فَضْلِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Terjemahan: “ Ya Allah, jauhilah aku dari kebingungan, muliakanlah aku dengan cahaya ilmu dan pengertian, bukakanlah kepadaku makrifat-Mu, dan mudahkanlah bagiku pintu-pintu kurnia-Mu, wahai Yang Paling Pengasih di antara yang pengasih.”

 

 

 

–          Doa Sebelum Belajar

اَللَّهُمَّ ﭐفْتَحْ عَلَيْنَا حِكْمَتَكَ وَﭐنْشُرْ عَلَيْنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

“ Ya Allah, bukakanlah ke atas kami hikmat-Mu dan limpahkanlah ke atas kami khazanah-Mu, Wahai Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. ”

 

–          Doa Sedang Belajar

 

اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا فُتُوْحَ ﭐلعَارِفِيْنَ وَارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّـيْنَ وَإِلْهَامَ ﭐلمَلاَئِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحمِيِْنَ

“ Ya Allah, bukakanlah pintu hati kami sebagaimana orang-orang yang arif , Kurniakanlah kepada kami kefahaman Nabi-Nabi dan ilham para Malaikat yang hampir dengan-Mu, dengan Rahmat-Mu Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. ”

                              

–          Doa Selepas Belajar

 

اَللَّهُمَّ إِنِِِّيْ أَسْتَوْدِعُكَ مَا عَلِمْتَنِـيْهِ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ وَلاَ تَنْسَنِيـْهِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

“ Ya Allah, aku pertaruhkan kepada-Mu apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, maka kembalikanlah semula kepadaku jika aku memerlukannya dan janganlah Engkau buat aku melupainya, Wahai Tuhan Yang Sekalian Alam. ”

 

–          Doa Mohon Diberi Kecerdasan Berfikir

اَللَّهُمَّ اَلْهِمْنِيْ رَشْدِيْ وَأَعِذْنِى مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ

 

“ Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku kecerdasan dan lindungilah dari kejahatan nafsuku.”

 

–          Doa Ketika Menghadapi Peperiksaan

 

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ

 

“ Ya Allah, Lapangkanlah dada(jiwaku) dan permudahkanlah urusanku.”

 

–          Doa Sebelum Membaca Al-Qur’an

 

اَللَّهُمَّ ﭐفْتَحْ عَلَيَّ حِكْمَتَكَ وَﭐنْشُرْ عَلَيَّ مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ وَذَكِّرْنِيْ مَا نَسِيْتُ يَا ذَا ﭐلجَلاَلِ وَﭐلإِكْرَامِ

 

“ Ya Allah, bukakanlah hikmah-Mu kepadaku dan cucurkanlah Rahmat-Mu untukku, serta ingatkanlah aku tentang apa yang aku lupa, Ya Allah Yang Maha Mempunyai Kemuliaan. ”

 

 

–          Doa supaya Dijauhkan Dari Sifat Malas, Bakhil Dan Pengecut

 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنْ وَأُعُوْذُبِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلْ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

 

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung padaMu dari rasa sedih gelisah dan aku berlindung pada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung pada-Mu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung pada-Mu dari cengkaman hutang dan penindasan orang (aniaya). ”

 

–          Doa Supaya Beroleh Ilmu Yang Bermanfaat

 

اَللَّهُمَّ إِِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ , وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ , وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ , وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهاَ  

 

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat dari hati yanh tidak khusyuk, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak diperkenankan.”

 

–          Doa menuntut Ilmu Pengetahuan

 

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا بَدِيْعُ السَّمَٰوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَالجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَاﷲُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْـأَلُكَ أَنْ تُحْيِيَ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِـيْنَ

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Hidup yang Berdiri sendiri, pencipta langit dan bumi, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Mulia, Ya Allah, Tidak ada Tuhan yang patut disembah hanya Engkau, aku memohon kepada-Mu semoga kiranya Engkau hidupkan akan hatiku dengan Nur hidayah-Mu, Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

 

–          Doa Dimudahkan Faham Dan Hafal Pelajaran ( Surah Al-Anbiya’: ayat 79) 

 

فَفَهَمْنَاهاَ سُلَيْمَانَ وَكُلاَّ اَٰتَيْناَ حِكْماً وَعِلْمً وَسَخََّرْناَ مَعَ دَاوُدَالجِْبَالَ يُسَّبِحْنَ وَالطَّيْرِ وُكناَّ فَاعِلِيْنَ , وَ ياَ حَيُّ يَا قَيُّومُ ياَ رَبَّ مُوسَىٰٰ وَهَارُوْنَ وَرَبَّ إِبْرَاهِيْمَ وَياَ رَبَّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ (صلى الله عليه وسلم) عَلَيْهِمْ أَجمْـَعِيْنَ , اَللَّّهُمَّ ارْزُقْنِيَ الفَهْمَ وَالعِلْمَ وَالحِكْمَةً وَالعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ

 

 

“ Kami fahamkan Sulaiman akan dia, dan masing-masing kami berikan hukum dan ilmu, kami tundukkan gunung-ganang dan burung kepada Daud, dan semuanya itu Kamilah yang membuatnya. Ya Allah, Tuhan Musa dan Tuhan Harun, Tuhan Ibrahim dan Tuhan sekalian makhluk, berilah aku rezeki, faham ilmu dan hikmah, dan fikiran dengan-Mu, Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih.”

Pentingnya Belajar Bahasa Arab

 

Gambar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bahasa arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa arab), maka ia (mempelajari bahasa arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah 1/527 dikutip dari majalah Al-Furqon).

Tahukah engkau saudariku, dorongan untuk belajar bahasa arab bukan hanya khusus bagi orang-orang di luar negara Arab. Bahkan para salafush sholeh sangat mendorong manusia (bahkan untuk orang Arab itu sendiri) untuk mempelajari bahasa arab.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqitdha)

‘Umar radhiallahu ‘anhu juga mengingatkan para sahabatnya yang bergaul bersama orang asing untuk tidak melalaikan bahasa arab. Ia menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Adapun setelah itu, pelajarilah Sunnah dan pelajarilah bahasa arab, i’rablah al-Qur’an karena dia (al-Qur’an) dari Arab.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari Hasan Al-Bashari, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.” (Mafatihul Arrobiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari as-Sya’bi, “Ilmu nahwu adalah bagaikan garam pada makanan, yang mana makanan pasti membutuhknanya.” (Hilyah Tholibul ‘Ilmi, dikutip dari majalah Al-Furqon)

karenanya, marilah kita mempelajari bahasa arab, demi kebaikan kita dan demi kebaikan diin ini. wallahu a’lamu bish-showab.

(rujukan: dakwahkampus.com)

Untukmu Pejuang Diinullah

Gambar

Teruslah berjuang membawa risalah Rasulmu

Untuk kehidupan umat yang lebih baik

Seperti sel darah merah yang mengangkut oksigen

Untuk menghidupi sel-sel tubuh

Untukmu pejuang dinnullah,

Teruslah menyeru membersihkan setiap ide kufur

Yang telah menjalar di otak dan benak umat

Seperti ginjal yang tak pernah letih mencuci darah-darah kotor

Membersihkannya dari zat-zat racun perusak kinerja tubuh

Untukmu pejuang dinnulah,

Teruslah beropini membongkar makar para kapitalis dan zionis kejam

Yang merusak tatanan kehidupan umat

Seperti hati membongkar sel darah merah

Meremajakannya dan menjadikannya layak beredar kembali

Untukmu pejuang dinnullah,

Teruslah bersatu, berjalan bergandengan

Memikul setiap beban kehidupan

Seperti benang-benang fibrin

Yang saling bertautan bekerjasama menutupi luka

Untukmu pejuang dinnullah,

Umat menanti perjuanganmu,

Untukmu pejuang dinnullah,

Surga menunggu kesyahidanmu,

Untukmu pejuang dinnullah . . . .

(dakwahkampus.com)

Pacaran dalam Perspektif Islam

Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga’ ya? Bahaya ngga’ ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal itu?

Memiliki rasa cinta adalah fitrah

Ketika hati sudah terkena panah asmara, terjangkit virus mrah jambu, akibatnya…… dahsyat man…… yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, hendak makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe’ akhirnya……. pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti’in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak …. dukun pun ikut bertindak.

Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga’ terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul ‘udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo’ kagak terpenuhi manusia ngga’ bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga’ tenang) sampe’ terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini dibagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :
Gharizatul baqa’ (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau’ (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.

Pacaran dalam perspektif islam

In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q. S. Al Isra’ : 32)

Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do’i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So….kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.

Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.”(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).

Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (HR. Imam Bukhari Muslim).

Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (Q. S. An Nuur : 31).

Dan juga sabda Nabi: “Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu.”(HR. Thabrany).

Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA’ (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga’ punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur’an: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”.

Wallahu A’lam bish-Showab

 

Sumber : Lembar Buletin Dakwah BINTANG (2)